RAJAB: EMBUN PERTAMA YANG MENYAPA JIWA, SEBELUM CAHAYA RAMADHAN TIBA

Di ufuk waktu, ketika rembulan sabit melengkung indah dengan malu-malu, sebuah aroma kedamaian mulai tercium. 

Ia bukan wangi kembang di taman, melainkan aroma ampunan yang dibawa oleh angin surgawi. 

Selamat datang, Bulan Rajab—bulan yang mulia, bulan yang tenang, sang pembuka pintu bagi rindu yang mulai memuncak menuju Ramadhan.

Rajab: Sungai di Surga dan Ladang Amal
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Rajab adalah bulan Allah. Jika kita mengibaratkan kehidupan sebagai sebuah perjalanan panjang di padang pasir, maka Rajab adalah oase pertama yang kita temui.

Pujangga langit berkata:
Rajab adalah waktu untuk menanam benih.
Sya’ban adalah waktu untuk menyirami.
Ramadhan adalah waktu untuk memanen.

Di bulan ini, doa-doa seolah memiliki sayap yang lebih kuat untuk terbang menembus Arasy. "Allahumma baarik lana fii Rajaba wa Sya’baana, wa ballighnaa Ramadhaan." 

Sebuah rintihan syahdu agar kita diberi keberkahan dan usia yang sampai pada bulan suci. Rajab adalah waktu di mana lisan kita diajak untuk lebih banyak beristighfar, membasuh noda-noda hati dengan air mata pertobatan yang tulus.

Jejak Sejarah: Saat Langit Menjemput Kekasih-Nya
Rajab bukan sekadar lembaran kalender. Di dalamnya, sejarah Islam mengukir tinta emas yang takkan luntur oleh zaman.

Pada suatu malam yang sunyi di bulan ini, terjadilah Isra’ Mi’raj. 

Saat kesedihan mendalam (Amul Huzni) menyelimuti hati Rasulullah SAW karena kepergian Siti Khadijah dan Abu Thalib, Allah menjemput kekasih-Nya melintasi tujuh lapis langit menuju Sidratul Muntaha. 

Di sanalah, hadiah terindah bagi umat manusia diturunkan: Shalat lima waktu. Perjalanan itu adalah pesan bagi kita semua: bahwa setelah puncak kesedihan, akan ada puncak kemuliaan. 

Bahwa bagi setiap hamba yang bersabar, Allah akan memberinya "perjalanan cahaya" menuju ketenangan.

Kemenangan di Tanah Syam dan Pembebasan Al-Aqsa
Rajab juga menjadi saksi keteguhan iman para ksatria. Di bulan ini pula, pada tahun ke-9 Hijriah, terjadi Perang Tabuk, sebuah ujian kesetiaan para sahabat di tengah panas yang membakar.

Tak hanya itu, sejarah mencatat dengan bangga bahwa di bulan Rajab tahun 583 H, Sultan Salahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskan Baitul Maqdis (Al-Aqsa) dari belenggu penjajahan. 

Kumandang adzan kembali membahana di langit Palestina, menandakan bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya untuk pulang, meski menempuh waktu yang panjang.

Menjemput Berkah di Bulan Haram
Rajab adalah salah satu dari Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dihormati). Di bulan ini, kebaikan dilipatgandakan pahalanya, dan kedzaliman dijauhi sejauh mungkin. 

Ia adalah waktu untuk berdamai—berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesama, dan kembali mesra dengan Sang Pencipta.

Mari kita jadikan Rajab ini sebagai madrasah bagi hati. Mulailah mengetuk pintu-pintu langit dengan shalat sunnah, puasa, dan sedekah. 

Jangan biarkan Rajab berlalu seperti angin lalu yang tak meninggalkan bekas.

Sebelum hiruk-pikuk persiapan fisik menjelang Ramadhan tiba, mari kita siapkan persiapan ruhani di bulan Rajab. 

Bersihkan bejana hati agar ia layak menampung limpahan rahmat Allah yang akan tumpah ruah nanti.

Selamat memasuki bulan Rajab. Semoga setiap detik yang kita lalui menjadi saksi bahwa kita adalah hamba yang rindu akan pulang ke pelukan ampunan-Nya.
Diposting oleh NDiar80 Muaradua
Blogger Muaradua OKU Selatan Updated at: Senin, 29 Desember 2025

Posted by : Nedi Arwandi ~ Blogger Muaradua OKU Selatan

nedi-arwandi Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar