IBU: RUMAH PERTAMA, MADRASAH TERAKHIR, DAN PINTU SURGA YANG TERBUKA

Di sela riuhnya dunia yang tak pernah berhenti menuntut, ada satu nama yang selalu menjadi teduh. 

Nama yang dieja oleh lisan kita pertama kali sebelum kita mengenal abjad kehidupan. Nama itu adalah Ibu.

Hari ini, saat kalender menunjukkan angka 22 Desember, kita tidak sedang sekadar merayakan sebuah tanggal. 

Kita sedang merayakan nafas yang tak pernah putus mendoakan, tangan yang tak pernah lelah mendekap, dan hati yang seluas samudra, menerima segala kurang dan lebihnya kita.

Sepasang Tangan yang Menenun Takdir

Ingatkah kita pada jemari yang dulu gemetar menyuapi mulut kecil kita? 

Jemari yang sama, mungkin kini telah mulai berkerut dimakan usia, namun tetap menjadi yang pertama menengadah ke langit setiap sepertiga malam.

Ibu adalah pelukis pertama dalam kanvas jiwa kita. Ia tidak menggunakan kuas, melainkan kasih sayang. 

Ia tidak menggunakan warna, melainkan pengorbanan. Lewat ninasbobok yang lirih, ia menanamkan benih keberanian. Lewat teguran yang halus, ia membangun pagar akhlak.

Luka yang Disembunyikan dalam Senyuman

Seringkali kita lupa, bahwa di balik senyum teduhnya saat kita pulang ke rumah, ada lelah yang ia lipat rapi di balik daster lusuhnya. 

Ada kantuk yang ia lawan demi memastikan sarapan kita tersaji hangat. 

Ada air mata yang ia hapus diam-diam di balik pintu kamar, hanya agar kita tidak melihat dunia sebagai tempat yang menakutkan.

Ibu adalah seseorang yang mampu membagi satu potong roti untuk ketiga anaknya, lalu berkata dengan suara paling meyakinkan: "Makanlah, Ibu sudah kenyang."

Surga yang Masih Berjalan di Bumi

Dunia mungkin mengenal pahlawan dengan jubah dan pedang, namun bagi kita, pahlawan itu adalah sosok yang wangi tubuhnya adalah aroma ketenangan. 

Jika ada keajaiban yang nyata di dunia ini, itu adalah doa seorang Ibu. Doa yang menembus langit, yang melunakkan takdir, dan yang menjadi perisai bagi anak-anaknya di tengah badai kehidupan.

Kita tidak perlu menunggu menjadi hebat untuk mencintainya. Karena baginya, saat kita lahir ke dunia, kita sudah menjadi "dunia" bagi dirinya.

Sebuah Janji Kecil di Hari Ibu

Untuk kamu yang masih bisa mendengar suara Ibu di ujung telepon, atau yang masih bisa mencium tangannya saat pulang kerja: Peluklah ia lebih lama hari ini. Katakan hal-hal yang selama ini tersangkut di kerongkongan karena gengsi atau kesibukan.

Dan untuk kamu yang hanya bisa menyentuh nisannya, atau menyebut namanya dalam bait doa karena ia telah kembali ke pelukan Sang Pemilik Cinta: Ketahuilah, cinta Ibu tidak pernah mati. 

Ia hanya berganti wujud menjadi cahaya yang memandu langkahmu dari kejauhan.

Selamat Hari Ibu untuk seluruh perempuan hebat di Indonesia. Terima kasih telah menjadi rumah tempat kami pulang, dan menjadi alasan mengapa kami percaya bahwa kasih sayang tanpa syarat itu benar-benar ada.

Sebab, tidak ada kata yang cukup luas untuk mendefinisikanmu, Ibu. Kamu adalah puisi yang ditulis Tuhan untuk memperindah dunia kami.

Diposting oleh NDiar80 Muaradua
Blogger Muaradua OKU Selatan Updated at: Senin, 22 Desember 2025

Posted by : Nedi Arwandi ~ Blogger Muaradua OKU Selatan

nedi-arwandi Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar