Wahai jiwa yang haus akan makna, mari kita hening sejenak. Ilmu bukanlah sekadar rangkaian aksara dan angka yang diam di lembar-lembar buku.
Ia adalah nadi kehidupan itu sendiri, obor yang menerangi gua-gua kesesatan, dan kompas yang menunjuk arah pulang menuju kearifan sejati.
Menuntut ilmu adalah sebuah perjalanan spiritual, sebuah hijrah batin. Ia bukan beban yang memberatkan pundak, melainkan sayap yang membebaskan ruh dari kungkungan kebodohan.
Ilmu adalah warisan para Nabi, bukan harta benda yang fana. Ia mengalirkan sungai kebijaksanaan di tengah gurun kekeringan kalbu.
Pendahulu Kita: Samudra Pengorbanan yang Tak Pernah Kering
Pernahkah kita merenungi seberapa mudahnya kita mengakses lautan pengetahuan hari ini? Cukup dengan sentuhan jari, beribu-ribu kitab dapat kita genggam.
Namun, alangkah berbedanya dengan tapak-tapak kaki para pendahulu kita. Mereka adalah para pejuang sunyi, yang perjalanannya adalah epik ketekunan.
Mereka melintasi gurun pasir tanpa alas kaki, bukan demi emas, melainkan demi sepotong hadits atau satu lembar risalah.
Mereka menghabiskan malam dalam cahaya rembulan atau hanya dengan seberkas lampu minyak, di saat kita kini mengeluh lelah di bawah terangnya lampu.
Mereka menempuh jarak ribuan mil, jauh dari keluarga dan kenyamanan, hanya untuk duduk di bawah kaki seorang Guru Besar dan mendengarkan setetes mutiara hikmah.
Bayangkan: Imam Bukhari, dengan ketekunannya yang legendaris. Ibnu Sina, yang belajar hingga jatuh sakit karena tak tidur. Al-Farabi, yang rela menjadi penjaga kebun di malam hari agar bisa belajar di siang hari.
Pengorbanan mereka bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah iman yang mendalam akan kemuliaan ilmu.
Panggilan untuk Jiwa yang Bersemangat
Hari ini, pengorbanan kita tak harus berupa menunggang unta melintasi benua. Pengorbanan kita terletak pada disiplin jiwa untuk menaklukkan:
Kemalasan yang membuai.
Kesenangan sesaat yang melenakan.
Kesombongan yang menutup pintu hati dari kebenaran baru.
Kita mewarisi api semangat mereka. Jadikan setiap tetes kopi malam dan setiap helaian buku yang terbuka sebagai persembahan suci kepada jalan yang telah mereka rintis.
Jangan biarkan kemudahan zaman ini menjadi penyebab kemalasan kita. Hargai setiap aksara, karena di baliknya ada darah dan air mata perjuangan.
Mari kita jadikan menuntut ilmu sebagai ibadah yang tiada henti, sebagai bakti pada masa lalu, dan investasi pada masa depan.
----------------------------------------------------------------------------

Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar