TANYA JAWAB SEPUTAR SHOLAT ISTISQO' DAN KHUTBAH ISTISQO'

Siap membacakan artikel
Shalat Istisqa dan doa memohon hujan

Dalam pelaksanaan Sholat Istisqo terdapat sejumlah persoalan fiqih yang sering ditanyakan, mulai dari persiapan sebelum sholat, puasa tiga hari, jumlah takbir, bacaan di antara takbir, khutbah, menghadap kiblat, membalik rida', hingga doa memohon hujan.

Berikut tanya jawabnya dengan menjadikan madzhab Syafi'i sebagai rujukan utama, sekaligus memberikan keterangan terhadap perbedaan pendapat ulama agar pembahasan tetap ilmiah dan proporsional.

1. Apakah sebelum Sholat Istisqo' dianjurkan berpuasa tiga hari?

Jawaban: Dalam madzhab Syafi'i, puasa termasuk amalan yang dianjurkan dalam persiapan menuju istisqo'. Imam as-Syafi'i menyebut anjuran agar masyarakat berpuasa tiga hari sebelum kembali melakukan istisqo', dan para ulama Syafi'iyyah menjelaskan hal tersebut dalam pembahasan fiqih istisqo'.[1]

Namun perlu dibedakan dengan teliti: puasa tiga hari tersebut bukanlah hadis marfu' yang secara eksplisit memerintahkan Nabi ﷺ kepada umatnya untuk berpuasa tiga hari sebelum Sholat Istisqo'. Ia merupakan anjuran yang dirumuskan dalam fiqih berdasarkan prinsip memperbanyak amal sholih, taubat, dan mengharap terkabulnya doa orang yang berpuasa.[2]

Karena itu, ungkapan yang lebih ilmiah adalah: “Menurut madzhab Syafi'i, dianjurkan berpuasa tiga hari sebagai persiapan istisqo', tetapi TIDAK MENISBATKAN sebagai perintah khusus Nabi ﷺ tanpa penjelasan.”

2. Apa saja yang dianjurkan dilakukan sebelum Sholat Istisqo?

Jawaban: Dalam fiqih Syafi'i, sebelum keluar untuk istisqo' dianjurkan memperbanyak taubat, istighfar, meninggalkan kemaksiatan, mengembalikan hak atau kezhaliman, memperbanyak sedekah, dan melakukan berbagai amal kebajikan. Imam as-Syafi'i dan ulama Syafi'iyyah memberikan perhatian khusus pada taubat dan istighfar sebelum istisqo'.[3]

Alloh Ta'ala berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat.” (QS. Nuh: 10–11).[4]

Dengan demikian, persiapan istisqo' bukan sekadar persiapan teknis untuk sebuah acara, tetapi merupakan persiapan spiritual untuk kembali kepada Alloh.

3. Bagaimana tata cara Sholat Istisqo' menurut madzhab Syafi'i?

Jawaban: Sholat Istisqo' menurut madzhab Syafi'i terdiri dari dua rakaat dan dalam tata caranya menyerupai Sholat Id pada sejumlah aspek, termasuk adanya takbir zawa'id.[5]

Pada rakaat pertama dilakukan tujuh takbir zawa'id setelah takbiratul ihram. Pada rakaat kedua dilakukan lima takbir zawa'id di luar takbir ketika bangkit dari rakaat pertama.[6]

Bacaan Al-Qur'an dilakukan secara jahr, sebagaimana ditunjukkan dalam hadis sahih mengenai praktik Nabi ﷺ.[7]

4. Kapan doa iftitah dibaca dalam Sholat Istisqo'?

Jawaban: Dalam madzhab Syafi'i, doa iftitah dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum takbir-takbir zawa'id.[8]

Takbiratul Ihram → Doa Iftitah → 7 Takbir Zawa'id → Al-Fatihah

Dengan demikian, tujuh takbir zawa'id pada rakaat pertama bukan termasuk takbiratul ihram.

5. Apakah tujuh takbir rakaat pertama sudah termasuk takbiratul ihram?

Jawaban: Tidak. Dalam madzhab Syafi'i, tujuh takbir tersebut merupakan takbir tambahan (zawa'id) yang dilakukan setelah takbiratul ihram dan doa iftitah.[9]

Demikian pula, lima takbir pada rakaat kedua adalah takbir tambahan dan tidak termasuk takbir ketika bangkit dari rakaat pertama.[10]

Rakaat pertama: 1 Takbiratul Ihram + 7 Takbir Zawa'id.
Rakaat kedua: 1 Takbir Intiqal + 5 Takbir Zawa'id.

6. Apakah disunnahkan membaca zikir di antara takbir-takbir zawa'id?

Jawaban: Dalam madzhab Syafi'i, disunnahkan membaca zikir di antara takbir-takbir tambahan tersebut.[11]

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ

“Mahasuci Alloh, segala puji bagi Alloh, tidak ada Tuhan selain Alloh, dan Alloh Mahabesar.”

Karena masalah ini merupakan rincian fiqih, perbedaan dalam zikir di antara takbir memang ada ikhtilaf ulama fiqih dalam hal penentuan kesunnahannya namun tidak semestinya menjadi sebab perselisihan di tengah jamaah.

7. Jika imam lupa jumlah takbir, apakah Sholat Istisqo' menjadi tidak sah?

Jawaban: Tidak. Dalam madzhab Syafi'i, takbir zawa'id bukan rukun sholat. Karena itu, apabila takbir tambahan tersebut kurang atau bahkan ditinggalkan, sholat tetap sah.[12]

Dengan bahasa fiqih yang lebih tepat: meninggalkan takbir zawa'id tidak membatalkan sholat. Tidak perlu menggunakan ungkapan “sah seratus persen”, karena istilah tersebut bukan istilah teknis dalam kitab fiqih.

8. Apakah bacaan Al-Qur'an dalam Sholat Istisqo' dibaca keras?

Jawaban: Ya. Bacaan Al-Qur'an dalam Sholat Istisqo' bagi imam dilakukan secara jahr. Hal itu disebutkan secara eksplisit dalam hadis Abdullah bin Zaid.[13]

ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ

“Kemudian beliau melaksanakan dua rakaat dan membaca dengan suara keras pada keduanya.” (HR. al-Bukhari).

9. Apakah khutbah Istisqo' dilakukan dua kali?

Jawaban: Menurut madzhab Syafi'i, khutbah Istisqo' disunnahkan dua kali setelah sholat, dengan duduk sejenak di antara khutbah pertama dan khutbah kedua, dan struktur khutbahnya menyerupai khutbah Id pada sejumlah ketentuan.[14]

Namun secara ilmiah, masalah ini perlu dibedakan antara hasil ijtihad fiqih madzhab dan bentuk yang secara eksplisit diriwayatkan dari Nabi ﷺ.

Imam as-Syafi'i dan ulama Syafi'iyyah memang menetapkan dua khutbah setelah sholat, tetapi sekaligus memberikan rincian khusus untuk khutbah istisqo', misalnya memperbanyak istighfar dan melakukan doa dengan menghadap kiblat.[15]

Karena hadis-hadis utama tentang istisqo' tidak memberikan rincian sedetail khutbah Jumat mengenai struktur dua khutbah, sebagian ulama memberi ruang pada bentuk khutbah yang lebih sederhana. Karena itu, dua khutbah adalah pendapat madzhab Syafi'i yang mapan..

Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat yang mengatakan cukup disampaikan satu khutbah saja adalah madzhab Al-Hanabilah dan pendapat Abu Yusuf dari Al-Hanafiyah dan juga Keputusan Muktamar Tarjih XX Muhammadiyah di Garut, Tahun 1976, dimuat dalam Berita Resmi Muhammadiyah No. 76 Tahun 1977.

10. Apakah khutbah Istisqo' dilakukan sebelum atau sesudah sholat?

Jawaban: Dalam madzhab Syafi'i, khutbah Istisqo' dilakukan setelah sholat.[16]

Sholat dua rakaat → Khutbah → Doa Istisqo'

Susunan tersebut merupakan bentuk yang dijadikan pegangan dalam madzhab Syafi'i, sedangkan doa memohon hujan sendiri dapat dilakukan pada kesempatan lain, termasuk di dalam khutbah Jumat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.[17]

Sedangkan madzhab Maliki, melaksanakan khutbah sebelum sholat Istisqo'.

11. Apakah khatib menghadap kiblat ketika berdoa?

Jawaban: Ya. Dalam tata cara istisqo' menurut madzhab Syafi'i, ketika memasuki bagian doa istisqo' yang utama, khatib disunnahkan menghadap kiblat, kemudian mengangkat tangan dan memperbanyak doa.[18]

Hadis Abdullah bin Zaid secara tegas menyebutkan bahwa ketika Nabi ﷺ hendak berdoa, beliau menghadap kiblat dan membalik rida'-nya.[19]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ membelakangi jamaah dan menghadap kiblat ketika memohon hujan.[20]

Namun menghadap kiblat di sini adalah sunnah dalam tata cara istisqo', bukan rukun yang menentukan sah atau tidaknya khutbah.

12. Apakah membalik rida' atau selendang hukumnya wajib?

Jawaban: Tidak. Membalik rida' hukumnya sunnah, bukan wajib. Nabi ﷺ melakukannya ketika istisqo', sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.[21]

وَقَلَبَ رِدَاءَهُ

“Dan beliau membalik rida'-nya.”

Menurut penjelasan fuqaha, tindakan tersebut merupakan bagian dari tata cara sunnah istisqo'. Karena itu, tidak melakukannya tidak membatalkan sholat maupun khutbah.[22]

13. Apakah jamaah juga disunnahkan membalik selendang/rida'nya?

Jawaban: Dalam madzhab Syafi'i, jamaah juga dianjurkan mengikuti imam dalam membalik rida' atau selendang.[23]

Tujuannya bukan sekadar perubahan posisi pakaian, tetapi mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam suasana memohon perubahan keadaan dari kekeringan menuju kesuburan.

14. Apa doa yang dapat dibaca ketika istisqo'?

Jawaban: Salah satu doa yang paling jelas dasar hadisnya adalah:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Alloh, berilah kami pertolongan dengan hujan. Ya Alloh, berilah kami pertolongan dengan hujan. Ya Alloh, berilah kami pertolongan dengan hujan.” (HR. al-Bukhari).[24]

Dalam doa istisqo' juga dapat dibaca:

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

“Ya Alloh, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah mati.”

Selain doa-doa ma'tsur, imam dapat memperbanyak doa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, selama tidak mengandung sesuatu yang bertentangan dengan syariat.

15. Apakah istighfar mempunyai hubungan dengan turunnya hujan?

Jawaban: Ya. Hubungan antara istighfar dan hujan disebut secara jelas dalam Al-Qur'an.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ

“Maka aku berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu.” (QS. Nuh: 10–12).[25]

Karena itu, khutbah istisqo' sangat tepat jika memberi porsi besar kepada taubat, istighfar, dan perbaikan amal.[26]

16. Apakah setiap kekeringan pasti merupakan hukuman Alloh karena dosa manusia?

Jawaban: Tidak boleh memastikan secara mutlak bahwa setiap kekeringan tertentu adalah hukuman Alloh atas kelompok tertentu.

Al-Qur'an memang menyatakan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. ar-Rum: 41).[27]

Ayat tersebut menjadi dasar untuk melakukan muhasabah dan perbaikan, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk memastikan bahwa musibah tertentu pasti merupakan hukuman atas dosa seseorang atau kelompok tertentu.

17. Apakah Sholat Istisqo' boleh dilakukan kembali apabila hujan belum turun?

Jawaban: Ya. Dalam pembahasan madzhab Syafi'i, apabila masyarakat telah melakukan istisqo' tetapi belum mendapatkan hujan, mereka dianjurkan untuk kembali melakukan istisqo'. Dalam al-Majmu' disebutkan bahwa istisqo' dapat dilakukan kembali untuk kedua, ketiga, dan seterusnya sampai Alloh menurunkan hujan.[28]

Hal ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Alloh. Doa adalah bentuk penghambaan dan pengakuan bahwa manusia selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

18. Bagaimana urutan praktis Sholat Istisqo' menurut madzhab Syafi'i?

Jawaban: Secara praktis, pelaksanaannya dapat diringkas sebagai berikut:

Sebelum keluar

  • Taubat dan istighfar.[29]
  • Meninggalkan kemaksiatan.
  • Mengembalikan hak orang lain.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Memperbanyak amal kebajikan.
  • Berpuasa tiga hari menurut anjuran fiqih Syafi'i.[30]

Ketika menuju tempat istisqo'

  • Keluar dengan rendah hati dan tidak berlebihan dalam berhias.[31]
  • Memperbanyak istighfar dan doa.
  • Menghadirkan hati yang penuh harap kepada Alloh.

Pelaksanaan sholat

  • Sholat dua rakaat.[32]
  • Bacaan Al-Qur'an dilakukan jahr.[33]
  • Rakaat pertama: 7 takbir zawa'id setelah takbiratul ihram.[34]
  • Rakaat kedua: 5 takbir zawa'id di luar takbir intiqal.[35]

Khutbah dan doa

  • Dua khutbah menurut madzhab Syafi'i.[36]
  • Memperbanyak istighfar dalam khutbah.[37]
  • Menghadap kiblat ketika doa istisqo'.[38]
  • Mengangkat kedua tangan ketika berdoa.[39]
  • Membalik rida' sebagai sunnah.[40]

19. Apa hikmah terbesar dari Sholat Istisqo'?

Jawaban: Hikmah istisqo' bukan hanya meminta air turun dari langit, tetapi mengembalikan manusia kepada kesadaran bahwa dirinya lemah dan selalu membutuhkan Alloh.

Alloh Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Alloh; dan Alloh Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15).[41]

Karena itu, ketika kita keluar melaksanakan istisqo', jangan hanya membawa tubuh ke lapangan. Bawalah pula taubat, kerendahan hati, penyesalan atas kesalahan, keinginan memperbaiki hubungan dengan sesama, dan harapan kepada rahmat Alloh.

Jangan hanya meminta hujan turun dari langit; mintalah pula agar rahmat Alloh turun ke dalam hati manusia.

Doa Istisqo'

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Alloh, berilah kami pertolongan dengan hujan. Ya Alloh, berilah kami pertolongan dengan hujan. Ya Alloh, berilah kami pertolongan dengan hujan.”[42]

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

“Ya Alloh, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah mati.”

Semoga Alloh menurunkan hujan yang bermanfaat, tidak membahayakan, menghidupkan bumi, menyuburkan tanaman, memenuhi kebutuhan manusia dan hewan, serta menjadikan hujan sebagai rahmat dan keberkahan.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Catatan Kaki & Rujukan

  1. Imam al-Syafi'i, Al-Umm, Bab Kaifa Yabtadi'u al-Istisqa'; dalam Al-Majmu' 5, dijelaskan bahwa Imam al-Syafi'i menganjurkan puasa tiga hari ketika hendak kembali melakukan istisqa'.
  2. Abū Ishaq al-Syirazi, Al-Muhadzdzab, Bab Sholat Istisqa', menjelaskan puasa tiga hari sebagai bagian dari persiapan istisqa' dan mengaitkannya dengan doa orang yang berpuasa. Ini merupakan konstruksi fiqih, bukan hadis marfu' yang memerintahkan puasa tiga hari secara khusus.
  3. Imam al-Syirazi, Al-Muhadzdzab; Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5, pembahasan persiapan istisqa' dan anjuran taubat, meninggalkan kezhaliman, sedekah serta istighfar.
  4. QS. Nuh: 10–11. Ayat menyebut istighfar dan turunnya hujan secara berurutan.
  5. Abū Ishaq al-Syirazi, Al-Muhadzdzab, Bab Sholat Istisqa'; Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5.
  6. Al-Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Juz 1, hlm. 607, mengenai tujuh takbir pada rakaat pertama di luar takbiratul ihram dan lima pada rakaat kedua di luar takbir intiqal.
  7. HR. al-Bukhari, no. 1024: Nabi ﷺ melakukan sholat dua rakaat istisqa' dan membaca Al-Qur'an dengan jahr.
  8. Lihat rincian tata cara sholat yang diqiyaskan kepada Sholat Id dalam madzhab Syafi'i; doa iftitah didahulukan sebelum takbir zawa'id.
  9. Al-Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Juz 1, hlm. 607.
  10. Sumber yang sama; lima takbir pada rakaat kedua dihitung di luar takbir ketika bangkit.
  11. Lihat kitab-kitab fiqih Syafi'iyyah dalam pembahasan takbir zawa'id dan zikir di antaranya.
  12. Status takbir zawa'id sebagai sunnah hai'ah menjadikan meninggalkannya tidak membatalkan sholat. Lihat pembahasan fiqih Sholat Id dan Istisqa' dalam literatur Syafi'iyyah.
  13. HR. al-Bukhari, no. 1024.
  14. Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5, Bab Sholat Istisqa': “يستحب أن يخطب بعد صلاة الاستسقاء خطبتين”.
  15. Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5: khutbah istisqa' menurut Syafi'iyyah memiliki dua khutbah, memperbanyak istighfar, dan pada bagian doa menghadap kiblat.
  16. Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5; Imam al-Syirazi, Al-Muhadzdzab: “السنة أن يخطب لها بعد الصلاة”.
  17. HR. al-Bukhari, no. 1013; praktik istisqa' dalam khutbah Jumat.
  18. Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5: disunnahkan menghadap kiblat dalam bagian doa khutbah istisqa'.
  19. HR. al-Bukhari, no. 1028. Nabi ﷺ menghadap kiblat ketika hendak berdoa dan membalik rida'.
  20. HR. al-Bukhari, no. 1025: Nabi ﷺ membelakangi jamaah dan menghadap kiblat ketika memohon hujan.
  21. HR. al-Bukhari, no. 1012 dan 1027.
  22. Membalik rida' merupakan sunnah tata cara istisqa', bukan rukun sholat maupun khutbah. Lihat Al-Majmu', Juz 5.
  23. Imam al-Syirazi, Al-Muhadzdzab, dan Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5, mengenai anjuran jamaah mengikuti pembalikan rida'.
  24. HR. al-Bukhari, no. 1013.
  25. QS. Nuh: 10–12.
  26. Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5, menjelaskan anjuran memperbanyak istighfar dalam khutbah istisqa'.
  27. QS. ar-Rum: 41.
  28. Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5: apabila belum turun hujan, istisqa' dianjurkan dilakukan kembali.
  29. Imam al-Syirazi, Al-Muhadzdzab, Bab Sholat Istisqa'.
  30. Imam al-Syafi'i, Al-Umm; lihat juga Al-Majmu', Juz 5.
  31. Ibnu Abbas radhiyallohu 'anhuma meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ keluar dalam keadaan merendahkan diri, tawadhu', dan penuh tadharru'; lihat pembahasan hadis istisqa' dalam kitab-kitab hadis dan fiqih.
  32. HR. al-Bukhari, no. 1026.
  33. HR. al-Bukhari, no. 1024.
  34. Al-Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Juz 1, hlm. 607.
  35. Al-Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Juz 1, hlm. 607.
  36. Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5.
  37. Imam al-Nawawi, Al-Majmu', Juz 5: dianjurkan memperbanyak istighfar dalam khutbah istisqa'.
  38. HR. al-Bukhari, no. 1028; lihat pula Al-Majmu', Juz 5.
  39. HR. al-Bukhari, no. 1013 dan 1025; Nabi ﷺ mengangkat tangan ketika berdoa meminta hujan.
  40. HR. al-Bukhari, no. 1012 dan 1027.
  41. QS. Fathir: 15.
  42. HR. al-Bukhari, no. 1013.
Posted by : Nedi Arwandi
Nedi Arwandi Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.

Tidak ada komentar :