Di dalam sejarah Islam, ada ulama yang dikenang karena kitabnya, ada yang dikenang karena fatwanya, dan ada pula yang dikenang karena cara hidupnya. Imam Asy-Syafi'i termasuk sosok yang menyatukan ketiganya.
Beliau dikenal sebagai salah seorang imam mazhab fikih yang paling berpengaruh dalam sejarah Islam, seorang ahli ilmu yang mengembara dari satu pusat keilmuan ke pusat keilmuan lainnya, sekaligus seorang ulama yang sangat menghargai adab, ketelitian dan pencarian kebenaran.[1]
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i. Beliau lahir pada tahun 150 Hijriah dan tumbuh dalam keadaan yatim bersama ibunya.
Sejak muda, perjalanan hidupnya sudah memperlihatkan satu sifat yang kelak menjadi ciri utama dirinya: ia tidak mudah puas dengan pengetahuan yang sedikit.[2]
Ia belajar bahasa Arab, sastra, hadis dan fikih. Ia pergi menemui para ulama, tinggal di lingkungan yang memungkinkan dirinya mempelajari bahasa Arab dengan lebih mendalam, kemudian berguru kepada Imam Malik di Madinah.
Setelah itu, perjalanan ilmunya semakin luas dan mempertemukannya dengan beragam tradisi fikih di Hijaz, Irak dan Mesir.[3]
Kisah hidup Imam Asy-Syafi'i terasa semakin penting untuk direnungkan pada zaman sekarang. Kita hidup di masa ketika ilmu sangat mudah ditemukan.
Satu telepon genggam dapat menyimpan ribuan kitab. Kajian dapat didengar kapan saja. Informasi dapat dicari dalam hitungan detik. Namun, kemudahan itu tidak selalu menghasilkan kedalaman.
Imam Asy-Syafi'i mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar apa yang kita ketahui, tetapi juga bagaimana kita mencarinya dan bagaimana ilmu itu membentuk diri kita.
Allah سبحانه وتعالى berfirman: “Rabbi zidni 'ilma” — “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”[4]
“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
Doa itu sangat pendek, tetapi pesannya sangat dalam. Seorang Muslim tidak boleh merasa telah selesai belajar. Sebanyak apa pun ilmu yang dimiliki, selalu ada ruang untuk memperbaiki pemahaman, memperluas wawasan dan mengoreksi kekeliruan.
Dari perjalanan Imam Asy-Syafi'i, kita menemukan sebuah pesan sederhana: orang yang benar-benar mencintai ilmu tidak tergesa-gesa untuk terlihat pintar. Ia lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari pengakuan dari orang lain.
Karena itu, mengenal Imam Asy-Syafi'i bukan hanya penting bagi orang yang mempelajari fikih. Kisah beliau juga relevan bagi pelajar, guru, dai, penyuluh agama, orang tua dan siapa saja yang ingin menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah.
Biografi Imam Asy-Syafi'i: Masa Kecil dan Awal Perjalanan Ilmu
Imam Asy-Syafi'i bernama Muhammad bin Idris bin al-'Abbas bin 'Utsman bin Syafi'. Beliau berasal dari Quraisy dari jalur Bani al-Muththalib. Sumber-sumber biografi klasik menyebutkan bahwa beliau lahir di Gaza pada tahun 150 H dan kemudian dibawa oleh ibunya ke Makkah setelah ayahnya wafat.[5]
Masa kecil dalam keadaan yatim tidak membuat beliau berhenti mengejar ilmu. Justru keadaan tersebut tampak menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Di Makkah, beliau memperoleh lingkungan yang mendukung kecintaannya kepada bahasa Arab, sastra dan ilmu agama.
Dalam beberapa sumber biografi klasik disebutkan pula bahwa Asy-Syafi'i mempelajari bahasa Arab secara serius di lingkungan Bani Hudzail. Penguasaan bahasa tersebut kemudian menjadi modal penting dalam memahami Al-Qur'an, hadis dan seluk-beluk bahasa Arab.[6]
Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa menjadi alim tidak selalu dimulai dari hal yang langsung terlihat besar. Terkadang seseorang harus menguasai dasar-dasar ilmu terlebih dahulu sebelum mampu memahami perkara yang lebih rumit.
Imam Asy-Syafi'i dan Imam Malik: Pertemuan Murid dengan Guru Besar
Salah satu fase terpenting dalam perjalanan ilmu Imam Asy-Syafi'i adalah ketika beliau belajar kepada Imam Malik bin Anas di Madinah.
Hubungan tersebut tidak hanya penting dalam perkembangan fikih Asy-Syafi'i, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seorang murid menghormati seorang guru besar.[7]
Dalam tradisi ilmu Islam, guru bukan hanya tempat bertanya. Guru adalah contoh tentang bagaimana ilmu dijalankan. Karena itu, belajar bukan semata-mata memperoleh jawaban, tetapi juga melihat cara seorang alim berbicara, bersikap, menjaga kehormatan ilmu dan memperlakukan orang lain.
Pelajaran tersebut sangat relevan pada masa kini. Internet memungkinkan seseorang belajar dari banyak sumber, tetapi belajar dari banyak sumber tidak boleh membuat seseorang kehilangan adab kepada guru.
Seorang pelajar boleh membaca banyak buku dan mendengar banyak kajian, tetapi ia tetap membutuhkan bimbingan agar tidak mudah salah memahami istilah, dalil atau konteks suatu persoalan.
Semangat Rihlah Ilmiah Imam Asy-Syafi'i
Perjalanan Imam Asy-Syafi'i tidak berhenti di Makkah dan Madinah. Beliau kemudian berhubungan dengan lingkungan keilmuan di Irak dan pada fase akhir kehidupannya menetap di Mesir. Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan berbagai corak pemikiran dan praktik fikih.[8]
Perjalanan seperti ini membutuhkan keberanian. Perpindahan dari satu negeri ke negeri lain pada masa itu bukan perkara ringan. Tidak ada kendaraan cepat sebagaimana sekarang. Tidak ada peta digital. Tidak ada komunikasi instan dengan keluarga.
Namun, bagi seorang pencari ilmu, kesulitan perjalanan merupakan bagian dari harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas.
Di sinilah kita dapat belajar: semangat menuntut ilmu tidak boleh kalah hanya karena prosesnya terasa sulit. Sesuatu yang bernilai biasanya membutuhkan kesabaran.
Orang yang ingin belajar agama secara serius juga perlu bersedia melewati proses yang tidak selalu menyenangkan. Ada hafalan yang harus diulang, buku yang harus dibaca perlahan, istilah yang harus dipahami, dan kesalahan yang harus diperbaiki.
Imam Asy-Syafi'i dan Lahirnya Tradisi Ushul Fikih yang Sistematis
Nama Imam Asy-Syafi'i sangat erat dengan perkembangan metodologi fikih Islam. Karya Ar-Risalah dikenal sebagai salah satu karya penting dalam sejarah awal sistematisasi ushul fikih, sementara Al-Umm menjadi salah satu karya besar dalam fikih Asy-Syafi'i.[9]
Yang menarik bukan hanya hasil pemikirannya, tetapi perhatian beliau terhadap bagaimana sebuah hukum harus dibangun dari sumber dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di zaman sekarang, pelajaran ini sangat penting. Kita hidup dalam arus informasi yang begitu cepat. Orang dapat membuat kesimpulan agama dari satu potong video atau satu kalimat yang beredar di media sosial.
Padahal, persoalan agama sering kali memiliki latar belakang, dalil, istilah dan rincian yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kalimat.
Semangat Imam Asy-Syafi'i mengajarkan agar kita tidak terburu-buru berbicara. Belajar harus membuat kita semakin hati-hati.
Ketelitian dalam Mencari Kebenaran
Salah satu pelajaran penting dari tradisi ilmiah Imam Asy-Syafi'i adalah kesediaan untuk menguji pendapat dengan dalil.
Dalam Manāqib al-Syāfi'i, al-Baihaqi menukil sejumlah pernyataan yang menggambarkan sikap beliau dalam perdebatan: tujuan dialog bukan untuk mengalahkan lawan, tetapi mencari agar kebenaran menjadi jelas.[10]
Sikap tersebut sangat indah. Debat tidak seharusnya menjadi ajang mempermalukan orang lain. Ilmu tidak boleh menjadi alat untuk menunjukkan bahwa kita lebih hebat.
“Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku kebenaran sebagai kebenaran lalu karuniakan kepadaku kemampuan untuk mengikutinya.”
Makna seperti itu sangat sesuai dengan ruh tradisi ilmiah para ulama: yang dicari adalah kebenaran, bukan kemenangan ego.
Keteladanan Imam Asy-Syafi'i dalam Adab dan Akhlak
Dalam sumber biografi klasik, Imam Asy-Syafi'i tidak hanya digambarkan sebagai seorang ahli fikih. Ia juga dikenal karena ibadah, wara', kemurahan hati, kecerdasan, kemampuan bahasa dan adabnya.[11]
Ini mengingatkan kita bahwa ilmu dan akhlak tidak seharusnya dipisahkan. Orang yang semakin tinggi ilmunya semestinya semakin berhati-hati dalam berbicara.
Pengetahuan seharusnya membuat hati semakin lembut. Jika ilmu justru membuat seseorang semakin mudah menghina, mencaci dan merendahkan orang lain, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.
Kita dapat belajar dari perjalanan Imam Asy-Syafi'i bahwa perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan ilmiah. Yang penting adalah cara menghadapinya.
Perbedaan tidak harus membuat persaudaraan hancur. Justru di antara para ulama besar terdapat banyak dialog, perbedaan dan perdebatan ilmiah. Tetapi perdebatan itu berada dalam lingkungan adab dan penghormatan terhadap ilmu.
Imam Asy-Syafi'i: Pelajaran untuk Generasi Sekarang
Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan Imam Asy-Syafi'i.
Pertama, belajarlah dengan sabar. Kedalaman ilmu tidak dapat dibangun dalam satu malam.
Kedua, hormati guru. Ilmu yang diperoleh dengan adab akan lebih mudah menjadi berkah.
Ketiga, periksa sumber informasi. Jangan menjadikan media sosial sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Keempat, jangan takut berbeda pendapat selama memiliki dasar ilmiah. Namun, perbedaan harus tetap berada dalam koridor adab.
Kelima, jadikan ilmu sebagai jalan memperbaiki akhlak. Ilmu yang baik membuat seseorang lebih bermanfaat, bukan lebih sombong.
Allah berfirman: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”[12]
Ayat tersebut bukan sekadar memuji orang berilmu. Ia sekaligus mengingatkan bahwa ilmu mempunyai nilai apabila mengubah kualitas hidup manusia.
Penutup: Semangat Imam Asy-Syafi'i yang Tidak Pernah Tua
Imam Asy-Syafi'i wafat di Mesir pada tahun 204 H, tetapi ilmu dan pengaruhnya terus hidup melalui murid-murid, kitab-kitab dan tradisi fikih yang berkembang sesudahnya.[13]
Mungkin kita tidak akan pernah mampu mencapai kedalaman ilmu beliau. Namun, kita dapat mengambil semangatnya.
Kita dapat belajar sedikit demi sedikit. Kita dapat menghormati guru. Kita dapat berhenti menyebarkan informasi agama yang belum jelas. Kita dapat belajar mendengarkan orang lain. Dan yang paling penting, kita dapat berusaha agar ilmu yang kita pelajari tidak berhenti di kepala.
Ilmu yang paling indah adalah ilmu yang membuat seseorang semakin mengenal Allah, semakin rendah hati kepada manusia dan semakin bersungguh-sungguh memperbaiki dirinya.
Semoga kisah Imam Asy-Syafi'i menghidupkan kembali semangat belajar dalam diri kita. Bukan agar kita dipandang hebat, tetapi agar hidup kita memiliki manfaat dan menjadi lebih dekat kepada kebenaran.
Catatan Kaki
1. Al-Baihaqi, Manāqib al-Imām al-Syāfi'i; lihat juga Al-Dzahabi, Siyar A'lām al-Nubalā', tarjamah Muhammad bin Idris al-Syafi'i.
2. Al-Dzahabi, Siyar A'lām al-Nubalā', jilid 10, tarjamah Imam Asy-Syafi'i. Lihat pula Tariq Suwaidan, Biografi Imam Syafi'i: Kisah Perjalanan Hidup dan Pelajaran Hidup Sang Mujtahid, Jakarta: Zaman, 2015.
3. Ibn Abi Hatim al-Razi, Ādāb al-Syāfi'i wa Manāqibuhu; Al-Baihaqi, Manāqib al-Syāfi'i.
4. Al-Qur'an, Surah Taha [20]:114: وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.
5. Al-Dzahabi, Siyar A'lām al-Nubalā', jilid 10; Al-Baihaqi, Manāqib al-Syāfi'i.
6. Al-Dzahabi, Siyar A'lām al-Nubalā'; Al-Baihaqi, Manāqib al-Syāfi'i. Keduanya memuat keterangan tentang masa pertumbuhan, bahasa dan perjalanan intelektual Imam Asy-Syafi'i.
7. Ibn Abi Hatim, Ādāb al-Syāfi'i wa Manāqibuhu; Al-Baihaqi, Manāqib al-Syāfi'i. Lihat juga Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, Jakarta: Bulan Bintang.
8. Al-Dzahabi, Siyar A'lām al-Nubalā', tarjamah Imam Asy-Syafi'i; Tariq Suwaidan, Biografi Imam Syafi'i, Jakarta: Zaman, 2015.
9. Muhammad bin Idris al-Syafi'i, Al-Risālah dan Al-Umm. Untuk kajian Indonesia mengenai metodologi dan pemikiran beliau, lihat Muhammad Ibrahim, Mengenal Imam Syafi'i dan Metodologinya, Bandar Publishing, 2016.
10. Al-Baihaqi, Manāqib al-Syāfi'i, terutama riwayat-riwayat yang menggambarkan adab Imam Asy-Syafi'i dalam munazharah dan pencarian kebenaran.
11. Ibn Abi Hatim, Ādāb al-Syāfi'i wa Manāqibuhu, yang memuat pembahasan mengenai tawadhu', wara', ibadah, kemurahan hati dan akhlak Imam Asy-Syafi'i.
12. Al-Qur'an, Surah Az-Zumar [39]:9.
13. Tāj al-Din al-Subki, Thabaqāt al-Syāfi'iyyah al-Kubrā; lihat juga Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab.
Daftar Rujukan
Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin al-Husain. Manāqib al-Imām al-Syāfi'i. Cairo: Maktabah Dar al-Turats, 1390 H/1970 M.
Ibn Abi Hatim al-Razi, 'Abd al-Rahman bin Muhammad. Ādāb al-Syāfi'i wa Manāqibuhu.
Al-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Siyar A'lām al-Nubalā', tarjamah al-Imam al-Syafi'i, jilid 10.
Al-Subki, Tāj al-Din 'Abd al-Wahhab bin 'Ali. Thabaqāt al-Syāfi'iyyah al-Kubrā.
Suwaidan, Tariq. Biografi Imam Syafi'i: Kisah Perjalanan Hidup dan Pelajaran Hidup Sang Mujtahid. Jakarta: Zaman, 2015.
Chalil, K.H. Moenawar. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab. Jakarta: Bulan Bintang.
Ibrahim, Muhammad. Mengenal Imam Syafi'i dan Metodologinya. Bandar Publishing, 2016.
Al-Qur'an Al-Karim: Surah Taha [20]:114 dan Az-Zumar [39]:9.
Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar