Ramadhan bukan sekadar perpindahan jam makan, bukan pula ritual menahan haus di bawah terik matahari.
Ia adalah sebuah "Madrasah Ruhani"—sebuah jeda agung di mana dunia dipaksa melambat agar jiwa bisa mengejar ketertinggalannya.
Di bulan ini, kita belajar bahwa lapar adalah bahasa yang paling jujur untuk mengingatkan kita pada kefanaan, dan haus adalah melodi yang memanggil kita untuk kembali meneguk cinta Illahi.




