Sebuah malam di mana waktu seolah berhenti berdetak, dan alam semesta menahan napasnya dalam takzim.
Ketika penduduk bumi terlelap dalam mimpi, sang kekasih Allah, Muhammad SAW, dijemput oleh cahaya untuk melintasi batas-batas yang tak pernah terbayangkan oleh nalar manusia.
Isra' Mi'raj bukan sekadar perpindahan raga dari satu titik ke titik lain. Ia adalah perjalanan cinta, sebuah penghiburan bagi hati yang sedang berduka, dan bukti bahwa bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil di bawah kuasa-Nya.
Dari Bumi yang Fana Menuju Sidratul Muntaha
Perjalanan ini dimulai di kegelapan Masjidil Haram, menembus heningnya malam menuju baitul Maqdis.
Di atas Buraq yang secepat kilat, Rasulullah mengajarkan kita bahwa sejauh apa pun jarak, jika ia ditempuh demi memenuhi panggilan-Nya, maka lelah akan berubah menjadi lillah.
Namun, keajaiban tidak berhenti di bumi. Langit demi langit terbuka.
Di langit pertama, sejarah menyapa melalui para pendahulu.
Di setiap lapisan, rahasia semesta tersingkap sedikit demi sedikit.
Hingga sampai di Sidratul Muntaha, batas terakhir di mana pena malaikat berhenti menulis, dan hanya cahaya-Nya yang bertahta.
"Di sanalah, di puncak segala keberadaan, Sang Hamba bertemu dengan Sang Khalik tanpa sekat. Bukan karena Allah butuh berjumpa di tempat tinggi, melainkan agar manusia sadar betapa kecilnya dunia ini dibandingkan keagungan kerajaan-Nya."
Kado Terindah: Mi'raj bagi Setiap Mukmin
Apa yang dibawa pulang dari perjalanan melintasi tujuh langit itu? Bukan emas, bukan pula kekuasaan duniawi. Beliau membawa pulang Salat.
Jika Isra' Mi'raj adalah perjalanan naik bagi Rasulullah, maka salat adalah "Mi'raj" bagi kita, umatnya.
Saat kita takbir, kita sedang meninggalkan dunia di belakang punggung kita.
Saat kita sujud, kita sedang berada di titik terdekat dengan Arsy-Nya.
Salat adalah ruang privat di mana kita bisa mengadu, menangis, dan menjemput ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan 2026 yang kian cepat ini.
Hikmah di Balik Tirai Cahaya
Isra' Mi'raj terjadi setelah "Amul Huzni" atau Tahun Kesedihan—tahun di mana Rasulullah kehilangan orang-orang tercinta. Ini adalah pesan bagi kita semua:
Bahwa setelah kesulitan yang menghimpit, Tuhan selalu menyiapkan perjalanan indah untuk menghibur jiwa.
Jangan berputus asa jika duniamu terasa gelap hari ini. Mungkin, Allah sedang menyiapkan sebuah "perjalanan malam" bagimu untuk naik ke derajat yang lebih tinggi.
Percayalah, bahwa setiap air mata yang jatuh karena kehilangan, akan digantikan dengan senyuman saat kamu sampai di "Sidratul Muntaha"-mu sendiri—titik di mana kamu merasa cukup hanya dengan kehadiran-Nya.
Menutup Lembaran Malam
Mari kita jadikan peringatan Isra' Mi'raj tahun ini bukan sekadar seremoni. Mari kita perbaiki salat kita, karena di sanalah letak kekuatan kita untuk menembus batas-batas kemustahilan hidup.
Selamat merenungi perjalanan agung Isra' Mi'raj. Semoga hati kita senantiasa terpaut pada cahaya-Nya, meski kaki masih berpijak di bumi yang penuh debu ini.
--------------------------------------------------------------

Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar