RAMADHAN: MENENUN RINDU DI BALIK LAPAR DAN DAHAGA

Sebuah Perjalanan Pulang Menuju Diri yang Murni
Ramadhan bukan sekadar perpindahan jam makan, bukan pula ritual menahan haus di bawah terik matahari. 

Ia adalah sebuah "Madrasah Ruhani"—sebuah jeda agung di mana dunia dipaksa melambat agar jiwa bisa mengejar ketertinggalannya.

Di bulan ini, kita belajar bahwa lapar adalah bahasa yang paling jujur untuk mengingatkan kita pada kefanaan, dan haus adalah melodi yang memanggil kita untuk kembali meneguk cinta Illahi.

Keutamaan Ramadhan: Ketika Langit Membuka Lengannya
Ramadhan adalah waktu di mana bumi dan langit seolah tanpa jarak. Berikut adalah beberapa permata keutamaan yang tersimpan di dalamnya:

Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs): Puasa adalah proses "detoksifikasi" ego. Saat fisik melemah, ruh justru menguat, mendaki tangga menuju derajat Taqwa.

Malam yang Lebih Indah dari Seribu Bulan: Kehadiran Lailatul Qadr menjadikan setiap detik di bulan ini bak butiran intan yang tak ternilai harganya.

Bulan Pengampunan: Setiap sujud adalah kesempatan menghapus noktah hitam, dan setiap doa adalah surat cinta yang langsung sampai ke Arsy-Nya.

"Puasa adalah perisai. Ia tidak hanya melindungimu dari api neraka, tapi juga melindungimu dari liarnya keinginan duniawi yang seringkali membuat kita lupa jalan pulang."

Kisah Mengharukan: Pelukan Rasulullah bagi Sang Yatim
Di pengujung Ramadhan, saat gema takbir mulai bersahutan menandakan kemenangan, sejarah mencatat sebuah kisah yang sanggup meruntuhkan keangkuhan hati.

Dikisahkan pada pagi hari Idul Fitri, Rasulullah SAW melihat anak-anak kecil bermain dengan sukacita mengenakan pakaian baru. 

Namun, di sudut jalan, beliau melihat seorang bocah laki-laki duduk sendirian. Pakaiannya lusuh, wajahnya tertunduk, dan bahunya terguncang oleh tangis yang tertahan.

Rasulullah menghampirinya dengan kelembutan yang tiada tara dan bertanya, "Mengapa engkau menangis, Nak?"

Bocah itu, tanpa mengenali siapa yang bertanya, menjawab, "Ayahku gugur dalam peperangan membela Rasulullah. Ibuku menikah lagi dan harta warisanku diambil. 

Kini, di hari raya ini, aku tak punya rumah, tak punya makanan, dan tak punya baju baru. Aku merasa tak ada gunanya hidup."

Mendengar itu, air mata Rasulullah menetes. Beliau merengkuh bocah itu ke dalam pelukannya yang hangat dan berkata:

"Wahai anakku, maukah engkau jika aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, serta Hasan dan Husain sebagai saudaramu?"

Seketika, dunia bocah itu berubah. Ia menyadari bahwa ia baru saja diadopsi oleh manusia paling mulia di jagat raya. 

Kisah ini mengajarkan kita bahwa inti dari puasa dan ibadah kita di bulan Ramadhan adalah menumbuhkan rasa kasih (Rahmah). 

Ramadhan gagal jika setelah sebulan berpuasa, kita tetap buta terhadap air mata di sekitar kita.

Puasa sebagai Seni Menjadi "Tiada"
Secara filosofis, puasa adalah latihan untuk menjadi "tiada". Kita menanggalkan ego, status, dan keinginan dasar kita untuk membuktikan bahwa kita adalah hamba.

Di dalam lapar, kita menemukan kejernihan. Di dalam haus, kita menemukan kerinduan. Ramadhan adalah tentang melepas untuk menerima. Melepaskan keterikatan pada dunia yang semu, untuk menerima cahaya hidayah yang abadi.

Mari kita jadikan Ramadhan kali ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah transformasi. Biarkan lapar kita menjadi doa, dan sujud kita menjadi penyerahan diri yang paling purna.

-------------------------------------------------------
Diposting oleh NDiar80 Muaradua
Blogger Muaradua OKU Selatan Updated at: Kamis, 19 Februari 2026

Posted by : Nedi Arwandi ~ Blogger Muaradua OKU Selatan

nedi-arwandi Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar