BAHASA ARAB UNTUK ANAK-ANAK

Siap membacakan artikel
Ilustrasi Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab Sejak Dini

Segala Puji bagi Allah Ta'ala yang telah menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, bahasa yang paling mulia dan paripurna. Al-Qur'an bukan sekadar kitab suci umat Islam, melainkan mukjizat paling agung yang menjadi bukti tak terbantahkan atas kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

Keindahan, kedalaman tata bahasa, dan presisi makna Al-Qur'an begitu memukau, melampaui segala karya sastra tertinggi yang pernah ada di muka bumi ini.

Bahkan, makhluk dari alam ghaib seperti golongan jin pun tak sanggup menyembunyikan rasa takjub mereka saat pertama kali mendengarkan lantunan ayat-ayat suci ini.

Allah Ta'ala mengisahkan kekaguman mereka ini di dalam firman-Nya:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا . يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

"Katakanlah (hai Muhammad): 'Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami.'" (QS. Al-Jin [72]: 1-2).[2]

Ketidakmampuan seluruh makhluk untuk meniru kehebatan struktur kalimat dan kandungan Al-Qur'an adalah bentuk I'jazul Qur'an (kemukjizatan Al-Qur'an) yang berlaku kekal sepanjang zaman.

Tidak akan pernah ada satu pun manusia atau jin yang mampu mendatangkan satu ayat saja yang setara dengannya. Allah berfirman:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

"Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (QS. Al-Israa [17]: 88).[3]

Menyadari betapa agungnya kitab ini, kita harus memahami bahwa Allah tidak memilih bahasa Arab secara kebetulan. Bahasa Arab terpilih karena kedalaman filosofisnya, kekayaan kosakatanya, dan kemampuannya menjaga kemurnian risalah ilahiah.[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wahyu dan membimbing para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in menggunakan bahasa Arab. Begitu pula generasi salafus shalih (generasi terbaik umat ini), mereka merawat peradaban dengan bahasa yang sama.

Maka, sungguh mustahil bagi kita untuk bisa menyelami intisari dua wahyu Allah (Al-Qur'an dan As-Sunnah) dengan pemahaman yang lurus dan benar tanpa bekal bahasa pengantarnya.[5]

Oleh karena itu, mempelajari bahasa Arab bukanlah sekadar tuntutan akademis atau linguistik semata, melainkan kebutuhan spiritual yang esensial agar kita tidak tersesat dalam memahami agama.

"Pelajarilah bahasa Arab, karena sesungguhnya bahasa Arab itu adalah bagian dari agama kalian." (Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu)

Nasihat emas dari Umar bin Khattab di atas menegaskan secara gamblang bahwa menguasai bahasa Arab berbanding lurus dengan kemampuan seseorang dalam memahami syariat secara komprehensif.

Namun ironisnya, realitas yang terjadi di tengah mayoritas kaum muslimin saat ini sangatlah memprihatinkan dan membuat hati miris.

Banyak yang mulai abai dan berpaling. Mereka jauh lebih merasa bangga apabila putra-putrinya fasih berbicara dengan bahasa Inggris, Mandarin, atau bahasa asing lainnya demi tuntutan zaman, namun abai saat sang anak tak mampu mengeja kalam Tuhannya sendiri. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Pentingnya Membangun Generasi Pecinta Bahasa Arab

Jika fenomena ini dibiarkan terus berlarut-larut, bagaimana mungkin kita bermimpi mencetak generasi tangguh yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya?

Kehilangan pijakan terhadap akar bahasa agamanya perlahan-lahan akan membuat generasi ini terputus dari literatur keislaman aslinya, sehingga mudah terombang-ambing oleh arus syubhat dan syahwat pemikiran modern.

Bagaimana mungkin mereka akan mampu membela Islam dengan argumen yang kokoh jika fondasi aqidahnya rapuh dan tidak dididik di atas tuntunan murni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Untuk memutus rantai keterasingan umat terhadap bahasanya sendiri, perbaikan harus segera dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga.

Wahai para orang tua, perhatikanlah sungguh-sungguh pendidikan anak-anakmu. Jangan telantarkan masa depan akhirat mereka hanya demi mengejar prestise dan materi duniawi.

Pendidikan yang paling vital adalah menanamkan aqidah tauhid yang lurus. Membiasakan mereka dengan bahasa Al-Qur'an sedini mungkin adalah investasi terbesar yang hasilnya akan dituai hingga ke akhirat.[6]

Mengajar dan melatih anak di usia golden age (usia emas) ibarat mengukir di atas batu; jejaknya akan membekas kuat seumur hidup. Sebaliknya, belajar di masa tua ibarat melukis di atas air, membutuhkan tenaga ekstra.

Langkah Praktis Mengenalkan Bahasa Arab pada Anak

Pertama, ajarkan mereka Al-Qur’an dan perkenalkan pendengaran mereka dengan lantunan ayat suci serta hadits-hadits Nabi secara rutin sejak bayi. Ini akan menumbuhkan ikatan batin kecintaan secara natural.

Kedua, tidak perlu menunggu anak masuk pesantren untuk belajar bahasa Arab. Mulailah dari rumah ketika mereka baru belajar berbicara. Gunakan metode korelasi visual secara langsung.

Misalnya, saat sang anak menatap langit, kenalkan bahwa bahasa Arabnya langit adalah "Samaa'un" (سَمَاءٌ). Saat anak memegang sebuah buku, sebutkan bahwa itu adalah "Kitaabun" (كِتَابٌ).

Ketika anak sedang memperhatikan tangannya sendiri, ajarkan bahwa tangan dalam bahasa Arab adalah "Yadun" (يَدٌ). Hubungan langsung antara objek fisik dan pengucapan akan mempercepat kemampuan menghafal anak tanpa merasa terbebani.

"Sesungguhnya bahasa Arab itu melatih kelogisan berpikir, dan membiasakan berbicara dengan bahasa Arab memberikan pengaruh positif yang kuat terhadap akal, akhlak, dan agama." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

Kutipan dari Syaikhul Islam di atas memberikan dimensi baru bahwa mengenalkan anak pada bahasa Arab bukan sebatas transfer kosakata, tetapi proses pembentukan karakter, adab, dan pola pikir Islami.

Ketiga, ciptakan lingkungan bahasa (biah lughawiyyah) yang mendukung di rumah. Biasakan saling menyapa dengan ungkapan sederhana yang bernilai doa seperti Jazakallahu khairan atau Barakallahu fiik.

Menjemput Ridha Allah Melalui Bahasa Surga

Mengubah kebiasaan memang bukan perkara mudah, apalagi di tengah arus globalisasi yang terus mendikte standar kesuksesan semu.

Bahasa asing tentu saja penting untuk bekal urusan duniawi, namun menyandingkan, bahkan melebihkan bahasa Arab sebagai prioritas utama bagi keluarga muslim adalah sebuah kewajiban moral.

Tanpa kemampuan bahasa Arab, kita hanya akan menjadi 'konsumen ilmu' yang terus-menerus bergantung pada hasil terjemahan yang terkadang tak mampu memuat keluasan makna aslinya.

Ketahuilah, setiap tetes keringat, waktu, dan biaya yang Anda luangkan untuk mengajarkan huruf demi huruf dari bahasa Nabi ini kepada anak-anak Anda, dicatat sebagai bentuk jihad fi sabilillah.[7]

Maka, marilah kita perkenalkan kembali kekayaan dan keindahan bahasa Arab sejak dini di dalam rumah-rumah kita.

Semoga kelak putra-putri kita tidak hanya cerdas berwawasan, tetapi tumbuh menjadi anak-anak yang bertakwa, pecinta Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Merekalah yang esok akan menjadi penegak panji Islam, dan dengan rahmat Allah, bahasa Arab ini akan mengantarkan kita semua menjadi penduduk surga-Nya kelak. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Mari luruskan niat, bulatkan tekad, dan mulailah belajar bahasa surgawi ini dari sekarang.

Catatan Kaki

1. Hakikat Al-Qur'an sebagai mukjizat dan mukjizat lisan terbesar Rasulullah.

2. Tafsir Surat Al-Jin ayat 1-2 terkait pengakuan takjub makhluk dimensi lain terhadap uslub Al-Qur'an.

3. Tantangan Al-Qur'an kepada jin dan manusia yang menunjukkan konsep kemukjizatan (I'jaz).

4. Alasan pemilihan bahasa Arab sebagai wadah firman Allah karena struktur dan kesempurnaan kosakatanya.

5. Keterikatan erat antara penguasaan ilmu syar'i, tafsir, hadits dengan penguasaan tata bahasa Arab (Nahwu, Shorof, Balaghah).

6. Konsep pendidikan usia dini (Golden Age) dalam Islam terkait daya serap otak terhadap hafalan dan bahasa.

7. Niat belajar bahasa Arab demi menjaga kemurnian pemahaman agama tergolong sebagai ibadah dan jalan berjihad.

Daftar Rujukan

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim. Dar Thayyibah, 1999.

Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Iqtidha' Shirathal Mustaqim Mukhalafata Ashhabal Jahim. Darul Alamiyyah, 2005.

Kementrian Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2019.

Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Tarbiyatul Aulad fi Dhauil Kitabi was Sunnah. Maktabah Darul Minhaj, 2012.

Al-Bani, Muhammad Nashiruddin. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Maktabah Al-Ma'arif, 1995.

As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi 'Ulumil Qur'an. Muassasah Ar-Risalah, 2008.

Posted by : Nedi Arwandi
Nedi Arwandi Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.

Tidak ada komentar :