MEMAKNAI KEMERDEKAAN, MENGINGAT JASA PAHLAWAN DAN ULAMA

Siap membacakan artikel
Ikon khutbah Jumat

KHUTBAH JUM’AT
Masjid Al-Khoirot, Kampung Tanding
Jum’at, 21 Agustus 2026

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ الصَّادِقِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.

Hadirin Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Di hari sayyidul ayyam yang penuh berkah ini, di bawah atap rumah Allah yang suci, khatib mengajak kita semua untuk menundukkan hati, merendahkan jiwa, dan mempertebal ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di bulan Agustus ini, tatkala pandangan kita menatap ke luar, kita melihat bendera Merah Putih berkibar di setiap sudut jalan, di depan rumah-rumah, dan di pelataran sekolah. Ia berkibar ditiup angin kebebasan. Namun Saudaraku, pernahkah sejenak kita merenung, menembus lorong waktu ke masa lalu; bahwa warna merah pada bendera itu sejatinya mewakili ceceran darah para syuhada, dan warna putihnya adalah cerminan niat suci serta keikhlasan jiwa-jiwa yang gugur demi tegaknya agama dan kemerdekaan bangsa ini?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kemerdekaan yang kita hirup udaranya hari ini, bukanlah hadiah yang diberikan di atas nampan emas oleh kaum penjajah. Kemerdekaan ini ditebus dengan harga yang teramat mahal. Ia ditebus dengan air mata para ibu yang merelakan anak bujangnya mati di medan laga. Ia dibayar lunas dengan ribuan nyawa yang tubuhnya hancur diterjang peluru.

Di antara barisan para syuhada itu, berdirilah para ulama, para kiai, dan para santri. Ketika bangsa ini diinjak-injak kehormatannya, ketika agama ini dihinakan, para ulama tidak duduk diam di atas sajadah mereka. Mereka menutup kitab-kitab di pesantren, mereka mengganti pena dengan bambu runcing, lalu turun ke gelanggang pertempuran dengan satu pekikan yang menggetarkan langit: "Allahu Akbar!"

Pengorbanan Ulama dan Teladan Cinta Tanah Air

Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan. Para ulama mengajarkan bahwa membela tanah air dari penjajahan adalah bagian dari jihad fi sabilillah.

Hal ini sejalan dengan teladan kecintaan Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kepada tanah kelahirannya. Ketika Rasulullah harus berhijrah dan menatap kota Makkah, beliau bersabda dengan suara yang bergetar:

مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

"Alangkah indahnya engkau sebagai sebuah negeri, dan betapa cintanya diriku kepadamu. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan tinggal di negeri selainmu." (HR. Tirmidzi)

Begitulah para ulama dan santri kita dahulu meneladani Nabi. Mencintai negeri ini dengan iman. Mengorbankan raga agar anak cucu mereka kelak—yakni kita yang duduk di masjid ini hari ini—bisa sujud kepada Allah tanpa rasa takut, bisa mengaji tanpa diintimidasi, dan bisa hidup bermartabat sebagai manusia yang merdeka.

Bagi mereka yang gugur, Allah telah menyiapkan tempat yang paling agung. Allah berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 169:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."

Tanggung Jawab Merawat Kemerdekaan dan Menjaga Persatuan

Saudaraku, Hadirin yang dirahmati Allah,

Lalu, pertanyaannya untuk kita hari ini: Apa yang telah kita lakukan untuk merawat warisan darah dan air mata mereka?

Apakah kita akan membiarkan bangsa yang dibangun dari puing-puing penderitaan ini hancur hanya karena ego dan kebencian sesama kita? Sungguh ironis dan membuat hati menangis, jika kemerdekaan yang dirajut erat oleh persatuan para pahlawan dari berbagai suku dan golongan, hari ini justru kita robek-robek dengan caci maki, fitnah, sentimen golongan, dan permusuhan hanya karena perbedaan pilihan atau pandangan.

Ingatlah Saudaraku, musuh kita hari ini bukanlah lagi tentara bersenjata yang datang dari seberang lautan. Musuh terbesar kita hari ini adalah perpecahan, kebodohan, dan hawa nafsu kita sendiri. Perpecahan adalah racun yang akan mematikan kemerdekaan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mewanti-wanti kita dengan sangat tegas dalam Surah Ali 'Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..."

Para ulama hikmah juga menasihatkan sebuah petuah yang sangat mendalam:

الاِتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ، وَالْفُرْقَةُ سَبَبُ الْفَسَادِ

"Persatuan adalah fondasi dari sebuah kesuksesan, sedangkan perpecahan adalah sumber kehancuran."

Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia,

Mari kita tundukkan ego kita. Mari kita saling memaafkan, saling merangkul, dan saling menguatkan. Jangan biarkan para pahlawan kita menangis di alam barzakh melihat anak cucunya saling bermusuhan.

Jadikanlah momen kemerdekaan ini sebagai titik balik untuk merdeka dari belenggu kedengkian. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan karya yang shalih, dengan mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia, dan dengan menjaga lisan serta jemari kita dari menyebarkan fitnah yang memecah belah bangsa.

Semoga Allah membalas setiap tetes darah para pahlawan dan ulama kita dengan surga Firdaus-Nya. Dan semoga Allah senantiasa menjaga negeri kita tercinta ini, menjadikannya negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur—negeri yang damai, bersatu, makmur, dan senantiasa berada dalam naungan ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}

ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

Posted by : Nedi Arwandi
Nedi Arwandi Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.

Tidak ada komentar :