KHUTBAH JUM’AT
Masjid Polres OKU Selatan
Jum’at, 14 Agustus 2026
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Hadirin jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya ketika kita berada di masjid. Takwa adalah ketika hati kita merasa bahwa ke mana pun kita pergi, Allah selalu melihat kita.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita berada di penghujung bulan Safar 1448 Hijriah. Setelah ini kita akan memasuki bulan Rabiulawal, bulan yang mengingatkan kita kepada sosok manusia paling mulia yang pernah berjalan di muka bumi, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Pada saat yang bersamaan, bangsa Indonesia sedang berdiri di ambang peringatan hari kemerdekaannya.
Seakan-akan kalender Allah dan perjalanan sejarah sedang mengajarkan kepada kita sebuah pertanyaan:
Apa sebenarnya arti kemerdekaan?
Apakah merdeka hanya berarti terbebas dari penjajahan? Apakah merdeka hanya berarti bendera merah putih berkibar? Apakah merdeka hanya berarti kita dapat hidup di negeri sendiri?
Ataukah ada kemerdekaan yang lebih dalam?
Kemerdekaan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Kemerdekaan yang letaknya bukan di tanah, bukan di gedung-gedung pemerintahan, bukan pula pada bendera.
Tetapi kemerdekaan yang letaknya di dalam dada manusia.
Hijrah Bukan Sekadar Pergantian Tahun
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ada satu hal yang perlu kita luruskan dalam memahami hijrah. Banyak di antara kita memahami bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hijrah pada bulan Muharram karena tahun Hijriah dimulai dari Muharram.
Padahal, Muharram adalah awal penanggalan Hijriah, bukan bulan ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah.
Perjalanan hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berlangsung dalam rangkaian peristiwa yang kemudian berujung pada kedatangan beliau di Madinah pada bulan Rabiulawal.
Maka ada pelajaran yang sangat dalam: tahun Hijriah dimulai dengan nama Muharram, tetapi kisah hijrah membawa kita menuju Rabiulawal.
Artinya, hijrah bukan sekadar soal pergantian angka tahun. Hijrah adalah perjalanan dari kegelapan menuju cahaya, dari ketakutan menuju keyakinan, dari kelemahan menuju kekuatan, dan dari keterikatan kepada makhluk menuju ketergantungan hanya kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
"Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Dan barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat yang dituju, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. An-Nisa: 100)
Perhatikanlah, jamaah.
Allah tidak hanya mengatakan bahwa seseorang berhijrah dari suatu tempat, tetapi Allah menyebut:
مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
"Berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya."
Di sinilah letak rahasia hijrah.
Hijrah bukan hanya meninggalkan tempat. Hijrah adalah menemukan tujuan.
Hijrah Dimulai dari Niat
Jamaah yang dirahmati Allah,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."
Maka boleh jadi seseorang pindah rumah, tetapi hatinya tidak pernah berpindah. Boleh jadi seseorang berganti pekerjaan, tetapi keserakahannya tetap sama. Boleh jadi seseorang berganti pakaian, tetapi kesombongannya tetap tinggal.
Boleh jadi seseorang bertambah umur, tetapi tidak bertambah dekat kepada Allah.
Boleh jadi seseorang setiap tahun memperingati hijrah, tetapi hawa nafsunya tidak pernah ia hijrahkan.
Karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."
Maka, saudara-saudaraku, jika selama ini kita mudah marah, mari kita hijrah dari kemarahan menuju kesabaran.
Jika selama ini lidah kita suka menyakiti, mari kita hijrah menuju perkataan yang baik.
Jika selama ini kita suka membuka aib orang, mari kita hijrah menuju menutup aib saudara.
Jika selama ini hati kita dipenuhi iri, mari kita hijrah menuju qanaah.
Jika selama ini kita mengejar dunia sampai melupakan akhirat, mari kita hijrah menuju keseimbangan.
Dan jika selama ini kita merasa bahwa hidup ini milik kita sendiri, mari kita hijrah menuju kesadaran bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
Sudahkah Kita Benar-Benar Merdeka?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Beberapa hari lagi bangsa Indonesia akan memperingati hari kemerdekaannya.
Kita akan melihat bendera merah putih berkibar. Kita akan mendengar lagu kebangsaan. Kita akan mengikuti upacara. Kita akan mengenang jasa para pahlawan.
Dan itu semua adalah bagian dari rasa syukur kita.
Tetapi marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita benar-benar merdeka?
Kalau seseorang sudah bebas dari penjajah, tetapi masih diperbudak oleh uang, apakah dia benar-benar merdeka?
Kalau seseorang tidak lagi dijajah oleh bangsa lain, tetapi diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri, apakah dia benar-benar merdeka?
Kalau seseorang bebas berbicara tetapi lisannya tidak mampu menahan fitnah, apakah dia benar-benar merdeka?
Kalau seseorang memiliki banyak harta tetapi tidak mampu berkata "cukup", apakah dia benar-benar merdeka?
Kalau seseorang memiliki jabatan tetapi hatinya selalu membutuhkan pujian manusia, apakah dia benar-benar merdeka?
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
"Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?"
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Jamaah rahimakumullah,
Inilah penjajahan yang paling berbahaya. Penjajah yang tidak memakai senjata. Penjajah yang tidak datang dengan kapal. Penjajah yang tidak mengibarkan bendera asing.
Penjajah itu bisa tinggal di dalam diri kita.
Namanya hawa nafsu.
Kadang ia berbicara dengan suara kesenangan. Kadang ia menyamar sebagai ambisi. Kadang ia menyamar sebagai gengsi. Kadang ia menyamar sebagai kebutuhan.
Karena itu, kemerdekaan yang paling tinggi adalah ketika hati tidak lagi menjadi budak selain Allah.
Bukan berarti kita meninggalkan dunia. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki jabatan.
Tetapi kita tidak boleh membiarkan semua itu memiliki hati kita.
Harta boleh berada di tangan. Jabatan boleh berada di pundak. Kekuasaan boleh berada dalam amanah.
Tetapi Allah harus tetap berada di hati.
Itulah kemerdekaan sejati.
Kemerdekaan yang Berujung Tauhid
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ
"Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah."
Hadis ini mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi hamba sesuatu selain Allah.
Ada yang menjadi hamba uang. Ada yang menjadi hamba jabatan. Ada yang menjadi hamba pujian. Ada yang menjadi hamba popularitas. Ada yang menjadi hamba penilaian manusia.
Maka kemerdekaan sejati adalah ketika kita mampu mengembalikan seluruh penghambaan hanya kepada Allah.
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Tidak ada yang berhak menjadi pusat penghambaan kita kecuali Allah.
Kalimat tauhid adalah pembebasan terbesar.
Ketika kita mengucapkan لَا إِلٰهَ, kita membebaskan diri dari segala sesembahan palsu: uang, jabatan, gengsi, pujian manusia, dan ketakutan kepada makhluk.
Kemudian kita mengatakan إِلَّا اللهُ.
Hanya Allah tempat bergantung. Hanya Allah tempat berharap. Hanya Allah tempat kembali. Hanya Allah yang paling kita cintai. Hanya Allah yang paling kita takuti. Hanya Allah yang kita sembah.
Kemerdekaan Indonesia adalah Amanah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kemerdekaan bangsa kita juga harus kita lihat sebagai amanah.
Kemerdekaan bukan hadiah untuk kita nikmati tanpa tanggung jawab. Kemerdekaan adalah kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam."
(QS. Al-Isra: 70)
Maka menjaga kemerdekaan berarti menjaga kehormatan manusia.
Tidak menzalimi. Tidak korupsi. Tidak mengambil hak orang lain. Tidak menyebarkan kebencian. Tidak mempermainkan amanah. Tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan."
(QS. An-Nahl: 90)
Karena itu, mencintai negeri bukan hanya dengan memasang bendera.
Mencintai negeri juga berarti menjadi manusia yang jujur di dalamnya.
Menjadi orang tua yang mendidik anaknya. Menjadi guru yang ikhlas mengajar. Menjadi pejabat yang amanah. Menjadi pedagang yang jujur. Menjadi petani yang bekerja dengan halal. Menjadi pelajar yang sungguh-sungguh. Menjadi tetangga yang tidak mengganggu. Menjadi Muslim yang menghadirkan rahmat.
Sebab bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung. Bangsa dibangun oleh akhlak manusia yang tinggal di dalamnya.
Ketika Safar Pergi, Apa yang Akan Kita Tinggalkan?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Sebentar lagi Safar akan meninggalkan kita. Setelah itu Rabiulawal akan datang.
Tetapi pernahkah kita bertanya:
Apa yang akan kita tinggalkan bersama berakhirnya Safar?
Apakah hanya tanggal? Apakah hanya bulan?
Ataukah kita juga akan meninggalkan dosa?
Apakah kita akan meninggalkan dendam? Apakah kita akan meninggalkan kesombongan? Apakah kita akan meninggalkan kebiasaan buruk?
Apakah kita akan meninggalkan salat yang sering kita lalaikan?
Apakah kita akan meninggalkan hubungan yang renggang dengan Allah?
Sebab sesungguhnya, bulan berganti tanpa menunggu kita siap.
Umur berjalan tanpa meminta izin.
Rambut berubah tanpa kita sadari.
Tubuh yang dahulu kuat perlahan menjadi lemah.
Orang-orang yang dahulu duduk bersama kita, satu demi satu mulai dipanggil Allah.
Dan suatu hari nanti, nama kita pula yang akan disebut sebagai orang yang telah pergi.
Maka jangan tunggu tua untuk bertaubat. Jangan tunggu sakit untuk mengingat Allah. Jangan tunggu kehilangan untuk menghargai keluarga. Jangan tunggu kematian untuk mengetahui bahwa dunia ini ternyata hanya sementara.
Allah telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hasyr: 18)
Maka marilah kita menutup Safar dengan istighfar.
Memasuki Rabiulawal dengan cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Menyambut kemerdekaan dengan rasa syukur.
Dan melanjutkan hidup dengan satu tekad:
Aku ingin merdeka dari segala sesuatu yang menjauhkan aku dari Allah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَاحْفَظْ أَهْلَهَا، وَاحْفَظْ أَمْنَهَا وَسَلَامَتَهَا وَوَحْدَتَهَا.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ إِنْدُونِيْسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَاجْعَلْ أَهْلَهَا أَهْلَ إِيْمَانٍ وَتَقْوَى وَعَدْلٍ وَإِحْسَانٍ.
اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَأَعِنْهُمْ عَلَى الْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ وَخِدْمَةِ الشَّعْبِ.
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَنَا وَأَبْطَالَنَا الَّذِيْنَ ضَحَّوْا بِأَنْفُسِهِمْ مِنْ أَجْلِ حُرِّيَّةِ هٰذَا الْبَلَدِ، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ حُرِّيَّةَ بِلَادِنَا سَبَبًا لِطَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِمَعْصِيَتِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar