MUTIARA MUHARRAM : DI BALIK PERGANTIAN TAHUN HIJRIYAH

icon khutbah jumat

KHUTBAH JUM'AT
MASJID DARUSSALAM PASAR ILIR
Jum'at, 3 Juli 2026 / 18 Muharram 1448

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ مَنْ زَانَ الْوُجُوْدَ بِشَخْصِهِ، وَزَانَ الْقُلُوْبَ بِوَصْفِهِ، وَزَانَ الْعُقُوْلَ بِصِدْقِهِ، وَبِمِثْلِ طِيْبِهِ أَبَدًا لَمْ تَحْظَ الْأُنُوْفُ.

أَمَّا بَعد، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Segala puji bagi Allah, Sang Arsitek Semesta yang menjalin untaian siang dan malam menjadi sebuah misteri bernama waktu. Shalawat serta salam semoga senantiasa berhembus kepada baginda Rasulullah SAW, sosok yang mengajari kita cara memahat keabadian di atas dunia yang fana ini.

Di mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan segenap jamaah sekalian, marilah kita terus memupuk ketakwaan. Sebab, hanya perisai takwa yang mampu menyelamatkan manusia tatkala tirai waktu dunia ditutup dan kita dihadapkan pada kekekalan akhirat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Saat ini, kita telah berada dihari ke-18 di bulan Muharram, telah melewati gerbang dari tahun baru Hijriah. Di saat kalender berganti, mayoritas manusia merayakannya sebagai sebuah "pertambahan".

Namun, secara filosofis dan hakiki, pergantian tahun sesungguhnya adalah sebuah "pengurangan". Kita tidak sedang menambah usia, kita sedang berjalan selangkah lebih dekat menuju liang lahat kita sendiri.

Waktu adalah substansi yang paling adil sekaligus paling misterius. Ia mengalir sunyi, tidak bisa ditumpuk, tidak bisa dibeli, dan tidak bisa diputar kembali. Allah SWT bersumpah demi waktu dalam Al-Qur'an untuk mengetuk kesadaran kita yang sering terlelap:

وَالْعَصْرِ ۞ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۞ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3)

Imam Syafi'i rahimahullah pernah merumuskan filsafat waktu yang sangat menggetarkan jiwa. Beliau berkata:

اَلْوَقْتُ كَالسَّيْفِ، إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ. وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ، شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

"Waktu itu bagaikan pedang. Jika engkau tidak menebasnya, maka ia yang akan menebasmu. Dan dirimu, jika tidak engkau sibukkan dengan kebenaran (kebermanfaatan), maka ia akan menyibukkanmu dengan kebathilan (kesia-sian)."

Jamaah yang direnungi kearifan,

Mutiara terbesar di balik penetapan Muharram sebagai awal tahun Hijriah adalah pengingat tentang "Titik Balik". Mengapa para sahabat Nabi terdengar begitu filosofis ketika memilih momentum Hijrah—bukan hari lahir Nabi atau hari pengangkatan beliau sebagai Rasul—sebagai awal penanggalan?

Karena Hijrah adalah simbol dari kesadaran eksistensial. Hijrah mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar bertahan hidup (survival), melainkan berpindah dari kondisi yang statis menuju kondisi yang dinamis secara spiritual.

Rasulullah SAW bersabda memberikan peta jalan bagi kita dalam mengarungi waktu:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)

Tertipu, jamaah sekalian. Kita sering merasa memiliki banyak waktu besok, lusa, atau tahun depan. Padahal, esok hari adalah sebuah kemungkinan, masa lalu adalah sebuah kenangan, dan yang kita miliki hanyalah "hari ini".

Seorang ulama ahli hikmah termasyhur, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, memberikan mutiara kata yang sangat menyentuh hati sanubari kita. Beliau berkata:

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Maka seiring perginya satu hari, pergi pulalah sebagian dari dirimu."

Bayangkanlah, setiap kali matahari terbenam di bulan Muharram ini, ego kita, jasad kita, dan kesempatan kita di dunia ini sedang terkikis perlahan. Kita sedang sekarat dalam durasi yang panjang.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Maka, mari kita jadikan pergantian tahun Hijriah ini bukan sekadar seremoni angka. Muharram adalah cermin retak yang harus kita rekatkan kembali melalui muhasabah (introspeksi).

Menanyakan pada diri sendiri: Di tahun yang lalu, apakah sujud kita sudah melibatkan hati, ataukah hanya gerakan badan tanpa makna? Apakah harta yang kita kumpulkan sudah tertular tetesan air mata orang-orang yang dizalimi?

Mari kita hargai setiap detak jantung kita sebagai modal utama untuk membeli jannah-Nya. Jangan biarkan sisa waktu yang singkat ini berlalu dalam kesia-siaan, kebencian, dan dendam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْلهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

 عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Diposting oleh NDiar80 Muaradua
Blogger Muaradua OKU Selatan Updated at: Jumat, 03 Juli 2026

Posted by : Nedi Arwandi ~ Blogger Muaradua OKU Selatan

nedi-arwandi Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar