السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ مَنْ زَانَ الْوُجُوْدَ بِشَخْصِهِ، وَزَانَ الْقُلُوْبَ
بِوَصْفِهِ، وَزَانَ الْعُقُوْلَ بِصِدْقِهِ، وَبِمِثْلِ طِيْبِهِ أَبَدًا لَمْ
تَحْظَ الْأُنُوْفُ.
أَمَّا
بَعد، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا
تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا
Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah, Sang Arsitek Semesta yang
menjalin untaian siang dan malam menjadi sebuah misteri bernama waktu. Shalawat
serta salam semoga senantiasa berhembus kepada baginda Rasulullah SAW, sosok
yang mengajari kita cara memahat keabadian di atas dunia yang fana ini.
Di mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri
pribadi dan segenap jamaah sekalian, marilah kita terus memupuk ketakwaan.
Sebab, hanya perisai takwa yang mampu menyelamatkan manusia tatkala tirai waktu
dunia ditutup dan kita dihadapkan pada kekekalan akhirat.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Saat ini, kita telah berada dihari ke-18 di bulan
Muharram, telah melewati gerbang dari tahun baru Hijriah. Di saat kalender
berganti, mayoritas manusia merayakannya sebagai sebuah
"pertambahan".
Namun, secara filosofis dan hakiki, pergantian tahun sesungguhnya adalah
sebuah "pengurangan". Kita tidak sedang menambah usia, kita sedang
berjalan selangkah lebih dekat menuju liang lahat kita sendiri.
Waktu adalah substansi yang paling adil sekaligus
paling misterius. Ia mengalir sunyi, tidak bisa ditumpuk, tidak bisa dibeli,
dan tidak bisa diputar kembali. Allah SWT bersumpah demi waktu dalam Al-Qur'an
untuk mengetuk kesadaran kita yang sering terlelap:
وَالْعَصْرِ ۞ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
۞ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."
اَلْوَقْتُ
كَالسَّيْفِ، إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ. وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا
بِالْحَقِّ، شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ
"Waktu itu bagaikan pedang.
Jika engkau tidak menebasnya, maka ia yang akan menebasmu. Dan dirimu, jika
tidak engkau sibukkan dengan kebenaran (kebermanfaatan), maka ia akan menyibukkanmu
dengan kebathilan (kesia-sian)."
Jamaah
yang direnungi kearifan,
Mutiara terbesar di balik penetapan Muharram sebagai
awal tahun Hijriah adalah pengingat tentang "Titik Balik". Mengapa
para sahabat Nabi terdengar begitu filosofis ketika memilih momentum Hijrah—bukan
hari lahir Nabi atau hari pengangkatan beliau sebagai Rasul—sebagai awal
penanggalan?
Karena Hijrah adalah simbol dari kesadaran eksistensial. Hijrah mengajarkan bahwa
hidup bukan sekadar bertahan hidup (survival), melainkan berpindah dari kondisi yang
statis menuju kondisi yang dinamis secara spiritual.
Rasulullah SAW bersabda memberikan peta jalan bagi kita
dalam mengarungi waktu:
نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Ada dua nikmat yang banyak
manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)
Tertipu, jamaah sekalian. Kita sering merasa memiliki
banyak waktu besok, lusa, atau tahun depan. Padahal, esok hari adalah sebuah
kemungkinan, masa lalu adalah sebuah kenangan, dan yang kita miliki hanyalah
"hari ini".
Seorang ulama ahli hikmah termasyhur, Al-Hasan
Al-Bashri rahimahullah,
memberikan mutiara kata yang sangat menyentuh hati sanubari kita. Beliau
berkata:
يَا
ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
"Wahai anak Adam,
sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Maka seiring perginya satu
hari, pergi pulalah sebagian dari dirimu."
Bayangkanlah, setiap kali matahari terbenam di bulan
Muharram ini, ego kita, jasad kita, dan kesempatan kita di dunia ini sedang
terkikis perlahan. Kita sedang sekarat dalam durasi yang panjang.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Maka, mari kita jadikan pergantian tahun Hijriah ini
bukan sekadar seremoni angka. Muharram adalah cermin retak yang harus kita
rekatkan kembali melalui muhasabah
(introspeksi).
Menanyakan pada diri sendiri: Di tahun yang lalu, apakah sujud kita sudah
melibatkan hati, ataukah hanya gerakan badan tanpa makna? Apakah harta yang
kita kumpulkan sudah tertular tetesan air mata orang-orang yang dizalimi?
Mari kita hargai setiap detak jantung kita sebagai
modal utama untuk membeli jannah-Nya. Jangan biarkan sisa waktu yang singkat
ini berlalu dalam kesia-siaan, kebencian, dan dendam.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْلهُ، إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا
إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar