Dalam sejarah peradaban , kisah uswatun
hasanah dalam Muharram yang tinta-tinta emas sejarah ditorehkan dengan begitu
indahnya . Mari sejenak menghentikan bising dunia, menundukkan kepala, dan
membuka kembali lembaran waktu yang sarat akan teladan.
1. Hijrah: Ketika Cinta Memilih Angkat Kaki
Ada masanya ketika bumi Makkah
terasa begitu sempit bagi para perindu kebenaran. Di bawah terik yang membakar
dan intimidasi yang menghimpit, Rasulullah SAW dan para sahabat mengambil
sebuah keputusan besar: Hijrah.
Hijrah bukan sekadar perpindahan
raga dari satu koordinat bumi ke koordinat lain. Ia adalah perjalanan hati yang
memilih meninggalkan kenyamanan demi menjaga api iman agar tetap menyala.
Bayangkan kesunyian Gua Tsur, di
mana kepasrahan mencapai puncaknya. Ketika Abu Bakar As-Siddiq mengkhawatirkan
keselamatan sang Nabi, kalimat penyejuk itu mengalun: "Janganlah engkau
berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita."
Hikmah Teladan:
Muharram mengajarkan kita arti
sebuah awal yang baru. Jika hari ini kita merasa terjebak dalam gelapnya
kebiasaan buruk atau kegagalan, Muharram berbisik kepada jiwa kita: “Berpindahlah. Tinggalkan apa
yang merusakmu, berjalanlah menuju Ridha-Nya. Allah selalu bersamamu.”
2. Laut
Merah yang Terbelah: Batas Akhir Keangkuhan Manusia
Di bulan yang mulia ini pula,
sejarah mencatat sebuah mukjizat yang menggetarkan sanubari. Nabi Musa AS dan
kaumnya berdiri di tepi Laut Merah. Di depan mereka terhampar gelombang air yang
dalam, sementara di belakang, derap kaki kuda dan kilatan pedang Fir'aun kian
mendekat.
Secara logika manusia, tidak ada
jalan keluar. Namun, iman tidak bekerja dengan logika bumi.
Dengan satu ketukan tongkat atas
perintah-Nya, laut yang angkuh itu terbelah, menciptakan jalan kering di tengah
samudera. Kezaliman tenggelam, dan kebenaran diselamatkan.
Hikmah Teladan:
Peristiwa ‘Asyura (10 Muharram) ini
adalah pengingat abadi bahwa sekencang apa pun badai ujian yang menghimpit
hidupmu, kekuasaan Allah jauh lebih besar. Ketika dunia terasa menutup semua
pintunya bagimu, ingatlah bahwa Allah mampu membelah "lautan
masalahmu" dengan cara yang tak pernah kausangka. Tugas kita hanyalah
percaya dan terus melangkah.
3. Merawat
Luka di Karbala: Keteguhan Menjaga Kebenaran
Muharram juga membawa sepenggal
kisah duka yang mengiris kalbu di padang Karbala. Tragedi yang menimpa Husain
bin Ali, cucu tercinta Rasulullah SAW. Beliau berdiri teguh, menolak tunduk
pada ketidakadilan, meski harus dibayar dengan tetesan darah suci.
Ini bukan sekadar cerita tentang
kekalahan fisik, melainkan simbol kemenangan moral yang abadi. Karbala
mengajarkan kita bahwa kebenaran harus dibela, walau sunyi, walau perih.
Hikmah Teladan:
Dari luka Karbala, kita belajar
tentang integritas. Di zaman ketika batas antara yang hak dan yang batil sering
kali kabur, kita diundang untuk meneladani keberanian dalam memegang prinsip.
Menjadi benar sering kali sunyi, namun itulah jalan para kesatria langit.
Menatap
Cermin Muharram
Seperti bumi yang merindukan hujan
setelah kemarau panjang, mari jadikan bulan ini sebagai momentum membasuh jiwa
yang lelah. Mari merajut kembali harapan yang sempat patah, mempertebal sabar
yang mulai menipis, dan melangkah dengan keyakinan baru.
Sebab, setiap detik di bulan
Muharram adalah undangan dari-Nya untuk kembali pulang menjadi hamba yang lebih
baik.
Semoga langkah kita di tahun ini
selalu dituntun oleh cahaya-Nya. Amin.

Kunjungan Anda sangat berharga buat kami. Saran dan ide Anda, kami harapkan untuk perbaikan situs ini. Bila Anda menyebarkan informasi yang berasal dari situs ini diharapkan mencantumkan tautan link aktif ke sumber postingan pada situs ini. Jazaakumullah Khairal jazaa'.SEMOGA TERJALIN PERSAUDARAAN YANG ERAT.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar